Sunday, February 15, 2009

Kedamaian dan kekeluargaan di Minanga

Minanga, sebuah kampung yang sejuk dengan keramahan penduduk dan alamnya. Terletak di desa Pebaloran, Kecamatan Curio, Kabupaten Enrekang, Sulsel. Dari Kampung ini kita dapat menyaksikan Keindahan Pegunungan Latimojong dari sisi Barat. Terletak diatas ketinggian menjadikan kampung ini memiliki cuaca yang sejuk (dingin) jadi, jika akan mengunjungi kampung ini, siapkanlah paling tidak jaket untuk menghangatkan tubuh terutama di malam hari.
Keseharian penduduk kampung adalah bertani. Jangan heran jika kampung ini terasa sepi disiang hari karena baik laki-laki maupun perempuan berangkat ke ladang atau sawah, sementara anak-anak bersekolah. Hasil pertanian utama sebagai sumber penghasilan adalah cengkeh, kopi, vanili dan sebagainya. Sebagian juga beternak ulat sutera. Kepompong (kokon) ulat sutera juga diolah sendiri menjadi benang sutera yang siap diolah manjadi kain. Pengolahan kokon menjadi benang disebut oleh penduduk setempat dengan “manggintir”. Hasil pertanian dijual ke pasar sudu, pasar terbesar di kabupaten enrekang, berjarak kira-kira 20 km dari minanga.
Kehidupan sehari-hari penduduk sangat bersahaja, sangat sederhana, pagi sampai sore ke ladang, malam harinya berkumpul dengan keluarga tercinta menikmati hasil jerih payah seharian. Sungguh indah. Pagi-pagi sebelum berangkat ke ladang biasanya dihabiskan dengan bercanda dengan keluarga sembari menonton berita di tv ditemani secangkir kopi hangat, kopi hangat ini bukan kopi produksi pabrik tapi diolah sendiri oleh para ibu. Kopi dari ladang disangrai terlebih dahulu sampai hitam pekat, selanjutnya ditumbuk. Sungguh alami.
Kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan sangat tinggi, walaupun di kampung ini hanya ada sekolah Madrasah Ibtidaiyyah (setingkat SD), tetapi setelah tamat MI, anak-anak akan dengan senang melanjutkan sekolah di desa tetangga yang telah memiliki sekolah setingkat SMP dan SMA, sebagian anak-anak ke sekolah dengan berjalan kaki yang cukup jauh, membanggakan bukan? Bukti kepedulian penduduk akan pentingnya pendidikan dapat dilihat dari banyaknya Sarjana di kampung ini. Mereka dengan sukarela akan kembali ke kampung untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah. Sungguh mulia. Selain karena keinginan untuk membangun kampung sendiri, para intelektual ini kembali ke kampung juga karena adanya kedamaian di kampung ini yang akan menarik mereka kembali, kampungku adalah cintaku, aku lahir disini, disini aku akan mengabdikan seluruh hidupku, begitulah filosofi yang mereka pegang.
Semua sisi dari kampung ini sangat indah, akan saya ceritakan lebih lanjut kawan.

No comments:

Post a Comment